Senin, 15 Maret 2010

Ta B’nana…Inovasi Unik Pisang Goreng

Ketika anda disodori makanan yang menggunakan cara proses digoreng, tentunya anda akan terbayang dengan minyak yang masih melekat, kolesterol tinggi, makanan tidak menyehatkan. Namun, kini ada inovasi pangan yang sekiranya mengubah image makanan dengan menggunakan cara proses digoreng dari image kelas bawah ke kelas lebih tinggi lagi. Bernama Ery Ashok yang pada tahun 2004 menggunakan perpaduan antara kemampuan memasak dengan kemajuan teknologi pangan di Indonesia, menemukan sebuah inovasi produk yang dinamakan Ta B’nana.

Sebuah nama brand yang menggunakan bahasa yang awam tetapi sarat makna, Ta mempunyai arti besar menyadur dari bahasa Jepang, B’nana menyimbolkan sebuah produk yaitu Banana yang disingkat B’, jika digabungkan Ta B’nana mempunyai arti pisang goreng yang besar. Franchise ini ini menjual jenis makanan berbahan baku pisang yang dibalurkan kedalam tepung crispy sebelum diolah dengan cara digoreng 2 kali dengna minyak non kolesterol, setiap pisang yang diolah harus memenuhi standar minimal ukuran panjang 6 cm dan ketebalan 1 cm, dengan tingkat kematangan pohon yang cukup, sehingga diperoleh Ta B’nana yang tebal, empuk dan manis didalam serta crispy diluar .

Salah satu kelebihan lain dari produk ini adalah ketika menikmati, kita tidak perlu kawatir dengan minyak yang melekat pada makanan akan mengotori tangan, karena dengan sistem penggorengan dua kali, jumlah minyak yang menempel serta jumlah kolesterol yang terkandung pada pisang akan sangat banyak berkurang.

Franchise yang berpusat di Jakarta tepatnya di Kelapa Gading Permai saat ini telah mempunyai gerai outlet mencapai 30 buah, termasuk kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, Pekanbaru, dan NTB. “Saya paling suka menikmati yang berbentuk kipas, unik bentuknya tapi tetap renyah dan empuk, apalagi kalau tidak terlalu panas, manis pisang lebih terasa” papar salah satu pelanggan setia Ta B’nana.

Gerai Ta B’nana di Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Diponegoro depan Purawisata dikelola oleh Ny.Siti Maemunah, semenjak buka pada tahun 2007, gerai ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Sedikitnya 50-70 sisir pisang habis digunakan untuk membuat sekitar 600 pisang goreng. Satu potong pisang goreng dihargai Rp. 2000.

Siti Maemunah, mengungkapkan Ta B’nana menggunakan pisang kapok untuk pisang goreng crispy-nya. Ternyata, pisang kepok paling cocok untuk diolah jadi pisang goreng. “Kita memilih pisang kepok kuning yang manis, dan mempunyai kadar air yang sedikit. Jadi tidak lembek pisangnya,” papar Siti . Pisang – pisang kepok tersebut didapatkan dari pemasok di Wates. Ny. Siti mengungkapkan pada bulan ke 5 gerainya telah dapat mencapai BEP serta ROI, sehingga bulan berikunya ia dapat menikmati sepenuhnya hasil gerainya.

Analisa Ekonominya

Omset per Hari :
600 peace x 2.000 : Rp 1.200.000

Omset Per Bulan
1.200.000 x 30 : Rp 36.000.000

Pengeluaran/potong

Crispy + adonan 500 x 600 : Rp. 300.000
gas 50 x 600 : Rp. 30.000
minyak goreng 4 ltr x @6.500 : Rp. 260.000
kardus + plastik 50 x 600 : Rp. 30.000
sewa tempat/bulan : Rp. 3.000.000
TOTAL : Rp. 9.940.000

Pendapatan penjualan

Bahan Baku ( 40% )
350.000 x 30 : Rp 1.500.000
Gaji 3 org Pegawai : Rp. 2.700.000
Biaya Lain – lain : Rp 1.200.000
TOTAL : Rp 5.400.000


referensi : bisnisukm.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar