Selasa, 16 Maret 2010

Untung Besar dari Ayam Kampung

Nyam…enaknya daging ayam kampung. Hidangan dari olahan daging ayam kampung seakan menjadi primadona penikmat kuliner. Selain rasanya yang lebih nikmat dibandingkan aya pedaging, ayam ini juga mempunyai asupan protein yang tinggi dan rendah lemak. Permintaan akan daging ayam kampung diberbagai daerah kian melonjak sehingga ini akan menjadi peluang usaha yang amat potensial.
Cara budidaya yang bisa mendongkrak produktifitas perlu dilakukan, untuk mencapai ukuran konsumsi 700 gram hanya butuh waktu sekitar 50 – 60 hari yang dulunya bisa mencapai 90 hari. Masa panen yang singkat akan menaikkan keuntungan bagi peternak. Untuk menghasilkan ukuran konsumsi hanya dibutuhkan waktu 50 hari untuk yang jantan dan 60 hari untuk betina karena betina lebih lambat pertumbuhannya di banding yang jantan.
                                    Analisa Ekonomi

Spesifikasi
• Jenis : ayam kampung pedaging
• Luas kandang : 100 m²
• Populasi : 500 ekor
• Masa panen : 60 hari
• Bobot panen : 700 g
• Tingkat kematian 5 %
Investasi
Sewa kandang 1 tahun untuk 4 periode Rp 1.000.000,00
Pemanas Rp 500.000,00
Peralatan makan dan minum Rp 500.000,00
Terpal Rp 350.000,00
Jumlah Rp 2.850.000,00

Biaya operasional
DOC 500 ekor @ 5.000 Rp 2.500.000,00
Pakan prestarter 70 kg @Rp 4.650 Rp 325.500,00
Pakan starter 750 kg @Rp 4.500 Rp 3.375.000,00
Obat dan vitamin Rp 75.000,00
Vaksin Rp 50.000,00
Listrik Rp 50.000,00
Penyusutan sewa kandang Rp 250.000,00
Penyusutan pemanas Rp 75.000,00
Pemyusutan peralatan makan dan minum Rp 31.250,00
Penusutan terpal Rp 17.500,00
Tenaga kerja per ekor @ 250 Rp 175.000,00
Total biaya Rp 6.924.250,00

Omzet
475 ekor x Rp 24.000,00 = Rp11.400.000,00

Laba
Rp 11.400.000 – Rp 6.924.250 = Rp 4.475.750,00


Referensi : bisnisukm.com

Senin, 15 Maret 2010

Ta B’nana…Inovasi Unik Pisang Goreng

Ketika anda disodori makanan yang menggunakan cara proses digoreng, tentunya anda akan terbayang dengan minyak yang masih melekat, kolesterol tinggi, makanan tidak menyehatkan. Namun, kini ada inovasi pangan yang sekiranya mengubah image makanan dengan menggunakan cara proses digoreng dari image kelas bawah ke kelas lebih tinggi lagi. Bernama Ery Ashok yang pada tahun 2004 menggunakan perpaduan antara kemampuan memasak dengan kemajuan teknologi pangan di Indonesia, menemukan sebuah inovasi produk yang dinamakan Ta B’nana.

Sebuah nama brand yang menggunakan bahasa yang awam tetapi sarat makna, Ta mempunyai arti besar menyadur dari bahasa Jepang, B’nana menyimbolkan sebuah produk yaitu Banana yang disingkat B’, jika digabungkan Ta B’nana mempunyai arti pisang goreng yang besar. Franchise ini ini menjual jenis makanan berbahan baku pisang yang dibalurkan kedalam tepung crispy sebelum diolah dengan cara digoreng 2 kali dengna minyak non kolesterol, setiap pisang yang diolah harus memenuhi standar minimal ukuran panjang 6 cm dan ketebalan 1 cm, dengan tingkat kematangan pohon yang cukup, sehingga diperoleh Ta B’nana yang tebal, empuk dan manis didalam serta crispy diluar .

Salah satu kelebihan lain dari produk ini adalah ketika menikmati, kita tidak perlu kawatir dengan minyak yang melekat pada makanan akan mengotori tangan, karena dengan sistem penggorengan dua kali, jumlah minyak yang menempel serta jumlah kolesterol yang terkandung pada pisang akan sangat banyak berkurang.

Franchise yang berpusat di Jakarta tepatnya di Kelapa Gading Permai saat ini telah mempunyai gerai outlet mencapai 30 buah, termasuk kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, Pekanbaru, dan NTB. “Saya paling suka menikmati yang berbentuk kipas, unik bentuknya tapi tetap renyah dan empuk, apalagi kalau tidak terlalu panas, manis pisang lebih terasa” papar salah satu pelanggan setia Ta B’nana.

Gerai Ta B’nana di Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Diponegoro depan Purawisata dikelola oleh Ny.Siti Maemunah, semenjak buka pada tahun 2007, gerai ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Sedikitnya 50-70 sisir pisang habis digunakan untuk membuat sekitar 600 pisang goreng. Satu potong pisang goreng dihargai Rp. 2000.

Siti Maemunah, mengungkapkan Ta B’nana menggunakan pisang kapok untuk pisang goreng crispy-nya. Ternyata, pisang kepok paling cocok untuk diolah jadi pisang goreng. “Kita memilih pisang kepok kuning yang manis, dan mempunyai kadar air yang sedikit. Jadi tidak lembek pisangnya,” papar Siti . Pisang – pisang kepok tersebut didapatkan dari pemasok di Wates. Ny. Siti mengungkapkan pada bulan ke 5 gerainya telah dapat mencapai BEP serta ROI, sehingga bulan berikunya ia dapat menikmati sepenuhnya hasil gerainya.

Analisa Ekonominya

Omset per Hari :
600 peace x 2.000 : Rp 1.200.000

Omset Per Bulan
1.200.000 x 30 : Rp 36.000.000

Pengeluaran/potong

Crispy + adonan 500 x 600 : Rp. 300.000
gas 50 x 600 : Rp. 30.000
minyak goreng 4 ltr x @6.500 : Rp. 260.000
kardus + plastik 50 x 600 : Rp. 30.000
sewa tempat/bulan : Rp. 3.000.000
TOTAL : Rp. 9.940.000

Pendapatan penjualan

Bahan Baku ( 40% )
350.000 x 30 : Rp 1.500.000
Gaji 3 org Pegawai : Rp. 2.700.000
Biaya Lain – lain : Rp 1.200.000
TOTAL : Rp 5.400.000


referensi : bisnisukm.com